Catatan Sepanjang Poso

Icon

menjadi jurnalis | bekerja untuk orang banyak

Martir yang Mati di Ujung Senapan Polisi

“Tuhan akan hukum saya, jika tangan ini saya pakai membunuh.” Itulah kata-kata terakhir Fabianus Tibo, salah seorang terpidana mati Poso yang menemui ajalnya di depan regu tembak Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Jumat (22/9/2009) di dinihari yang pekat. Pengakuanya itu disampaikannya di depan pendamping rohaninya, Pastor Jimmy Tumbelaka, di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A, Petobo, Palu, Sulawesi Tengah

Kini, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu sudah tiada. Nyawa mereka berakhir di ujung senjata SS-1 milik 12 Regu tembak Brimob Polda Sulteng.

Hingga detik terakhir hidupnya, mereka menolak disebut sebagai aktor kerusuhan Poso. Ada 16 nama yang disebut-sebutnya sebagai dalang kerusuhan Poso harus bertanggungjawab atas pecahnya kerusuhan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) di Poso pada tahun 2000 itu.

Istri Tibo, Nurlin Kasiala menyatakan suaminya tak patut dihukum mati, sebab ada yang lainnya yang telah mengorbankan mereka.

“Sepanjang hidupnya, bapak suka sekali menolong orang,” kata Nurlin mengenang Tbo.

Pernyataan-pernyataan Tibo, dkk pun diamini oleh Pastro Jimmy yang tetap yakin ketiganya dikorbankan untuk melepaskan tanggung jawab orang lain dalam kerusuhan Poso.

Sebenarnya, eksekusi Tibo cs menyisakan masalah karena Pastor Jimmy seharusnya mendampingi saat ketiganya dieksekusi. Belum lagi menurut Steyvanus Roy Rening, penasihat hokum Tibo cs, eksekusi itu tidak sah, karena mereka tengah menempuh upaya hukum.

Jejak Tibo, dkk
Tibo lelaki yang biasa-biasa saja. Begitu pun Domi dan Rinus. Tak ada yang istimewa dari ketiganya. Namanya melambung dan menghiasai halaman demi halaman media massa dan layar kaca saat Pengadilan Negeri Palu mulai menyidangkan mereka pada September 2000. Mereka didakwa menghilangkan nyawa 191 warga Poso dan menyebabkan kerugian Rp 40 miliar dalam kerusuhan Poso pada Mei-Juni 2000.

Tibo ditangkap diDesa Jamur Jaya, Kecamatan Lembo, Morowali, Sulawesi Tengah pada Selasa, 25 Juli 2000 oleh Satuan Teritotial Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Lalu diserahkan ke Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah keesokan harinya. Adapun Domi dan Rinus lebih memilih menyerahkan diri ke Kepolisian Sektor Beteleme, Morowali. Keduanya menyerah pada Senin, 31 Juli 2005, lima hari setelah Om Tibo ditangkap.

Sejak saat itu mereka pun menjadi pusat perhatian. Proses pengadilan mereka selalu dipadati massa yang pro dan kontra dengan mereka.

Sampai kemudian pada 5 April 2001, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palu yang diketuai Soedarmo menjatuhkan vonis hukuman mati kepada ketiganya. Mereka dipersalahkan melakukan kejahatan pembunuhan berencana, sengaja menimbulkan kebakaran dan penganiayaan yang dilakukan bersama-sama secara berlanjut. Meski mereka menyatakan tetap tidak menerima penetapan itu.

Proses hukum pun terus berjalan. Ketiganya atas putusan Pengadilan Negeri pada
5 April 2001, mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah. Namun pada 17 Mei 2001, menyatakan tidak menerima banding mereka. Mereka tak lantas putus asa. Mereka pun mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Sayang, lagi-lagi upaya mereka menemui kegagalan, 11 Oktober 2001 dinyatakan kasasi mereka ditolak. Setelah, dengan dasar bukti hukum baru mereka pun mengajukan Peninjauan Kembali ke MA. Tapi lagi-lagi kandas di tengah jalan, 21 Maret 2004 keputusan vonis mati diperkuar lagi oleh MA. Artinya mereka tetap akan menjalani hukuman mati sesuai putusan PN Palu, 5 April 2001.

Namun lubang hukum tetaplah ada. Pada April 2005, mereka pun mencoba memohon grasi ke Presiden SBY. Sayang, mereka harus kecewa lagi. Kamis (10/11), Presiden SBY melalui Mensekneg Yusril menyatakan tidak menerima permohonan itu.

Tibo, lahir di Flores 60 Tahun lalu. Ia anak ke-6 dari pasangan Orbertus Andapo dan Maria Mosso. Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) setempat, namun tidak tamat.

Menginjakan kaki pertama kali di Sulawesi Tengah pada 1973, tepatnya di Luwuk, kota kecil di perut Pulau Sulawesi. Di sana dia menjadi buruh pada PT Marabunta. Di Luwuk pula, dia bertemu tambatan hatinya, Nurlin Kasiala yang memberi tiga anak lelaki dan satu anak perempuan.

Lalu pada 1978, hijrah ke Jamur Jaya, Morowali. Di sana dia bekerja sebagai penyadap karet di PT Perkebunan Nusantara XIV Unit Kebun Beteleme. Di sana ia dituakan. Apalagi dia mempunyai keahlian sebagai dukun.

Adapun Domi lahir di Maumere pada 42 tahun lalu. Domi adalah satu-satunya buah hati Dominicus da Silva dan Maria Dualio. Setelah sebelumnya sempat merantau di Jakarta , Domi yang lulusan Sekolah Teknik Menengah jurusan mesin itu, pada 1991 hijrah ke Morowali. Lalu tahun itu juga, ia memilih bekerja di PT Inco, Soroako, Sulawesi Selatan, namun memilih tinggal di Beteleme. Setiap Senin ia ke Soroako, dan Sabtu kembali ke Beteleme. Ia bekerja sebagai sopir alat-alat berat di perusahaan pertambangan multinasional itu.

Untuk menambah tebal dompetnya, Domi pun mengikuti jejak Om Tibo bekerja di di PT Perkebunan Nusantara XIV Unit Kebun Beteleme. Sampai kemudian, konflik Poso menyeretnya ke Penjara bersama Om Tibo.

Seperti dipertemukan Tuhan, Rinus pun berasal dari jazirah Nusa Tenggara namun bertemu di wilayah Morowali. Rinus yang lahir 48 tahun lalu di Kupang, adalah anak bungsu dari pasangan Daniek Djaga dan Lusiana Bude. Di Molores, kampung orang-orang Nusa Tenggara di Bungku, Morowali, ia menikahi seorang perempuan yang memberinya empat orang anak. Ia pun bekerja di PT Perkebunan Nusantara XIV.

Ketiganya adalah orang-orang yang mudah diajak bergaul. Tidak memandang buluh dalam berteman, bisa jadi karena latarbelakang keluarga mereka yang sangat sederhana.

Umumnya, warga binaan di Lapas Kelas 2 A Palu punya kesan serupa kepada ketiganya. Termasuk para sipir Lapas provinsi itu.

“Selama kami bergaul dengan Om Tibo, Domi dan Rinus, mereka memberi kami banyak pelajaran. Khusus Om Tibo, sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri. Dia selalu memberi kami nasehat-nasehat, dia rajin sekali ke gereja,” aku Vecky, warga binaan yang tinggal sekamar dengan Om Tibo di Blok 4, sebelum tinggal di blok isolasi.

Kini, ketiganya telah pergi menghadap ke hariban Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi kita tidak perlu terlalu bersedih, mereka telah menjadi martir bagi yang lainnya. Tuhan pasti tidak akan menyiakan mereka. ***

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Flickr Photos

Desktop!!!

DSC_0246

DSC_0244

DSC_0239

DSC_0082

DSC_0081

More Photos

RSS Catatan Poso

  • Polda Serius Ungkap Kasus Penyerangan Kantor Aji Palu
    PALU (31/12) - Kapolda Sulteng Kombes Pol Dewa Parsana, Kamis (30/12/2010) malam, pukul 20.00 Wita mendatangi Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu. Parsana didampingi oleh Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Palu Ajun Komisaris Polisi Darno dan Direktur Reskrim Polda Sulteng serta sejumlah aparat Intelijen dan Keamanan Kepolisian Dae […]
  • Kapolres: Pelakunya Ditangkap Hari ini Juga!
    PALU (31/12) - Ratusan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Koalisi Antikekerasan Palu Jumat (31/12) hari ini mendatangi Kantor Kepolisan Resor Palu dan Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Terkait penyerangan Kantor Aliansi Jurnalis Independen Palu Kamis (30/12) kemarin. Koalisi meminta Polisi segera menangkap pelaku penyerangan itu. Koordinator lapangan aksi, […]
  • Kantor AJI Palu Diserang
    PALU (30/12) -  Kantor AJI Palu dan juga Kantor Redaksi Media Online mililk AJI Palu diserang massa pemuda Kamis (30/12/2010) sekira pukul 10.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita). Mereka menamakan diri Front Pemuda Kaili (FPK). Sekitar 30-an pemuda berseragam bak paramiliter bertuliskan FPK sejak awal kedatangannya menyoal berita yang dilansir beritapalu.com ter […]
  • FPK Serang Graha KNPI Sulteng
    PALU (28/12) - Massa Front Pemuda Kaili (FPK) yang dimpin Erwin Lamporo,  menyerang Graha KNPI Sulteng. Akibatnya, kaca gedung berlantai dua itu hancur berantakan. Polisi yang berjaga-jaga di Graha KNPI Sulteng, tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa menonton aksi anarkis yang pertontonkan massa FPK sambil mengamankan diri dengan menjadikan kursi sebag […]
  • Wagub Sulteng Palsu Ditangkap Polisi
    Wagub Sulteng Palsu Ditangkap Polisi Palu - Seorang warga di Kota Palu Sulawesi Tengah (Sulteng), ditangkap polisi karena mengaku sebagai Wakil Gubernur Sulteng dan menipu seorang kepala dinas dilingkungan Pemprov Sulteng jutaan rupiah. Kapolsek Palu Barat, AKP Darmiyanto mengatakan Irdan,27; yang sehari-harinya tercatat sebagai mahasiswa Universitas negeri […]
  • Tiga Sekolah Disegel Warga, Ratusan Murid Telantar
    Palu -Tiga sekolah yang terletak di Jalan Bulumasomba, Kelurahan Lasoani, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (10/5) disegel warga. Akibatnya proses belajar mengajar ratusan murid lumpuh. Ketiga sekolah yang disegel yakni Sekolah Dasar (SD) Inpres 1 dan SD Negeri 2 Lasoani, dan Taman Kanak-Kanak (TK) Mantikilore. Penyegelan ketiga sekolah […]
  • Unjuk Rasa Tuntut Bupati Buol Mundur Berakhir Bentrok
    Palu - Unjuk rasa lebih dari 1.000 orang yang menuntut Bupati Buol Amram Batalipu mundur dari jabatannya berakhir bentrok, Senin (10/5). Empat pengunjuk rasa ditangkap polisi, sejumlah warga dan petugas luka terkena lemparan batu. Unjuk rasa gabungan warga, mahasiswa, dan pegawai negeri sipil (PNS) yang tergabung dalam Forum Masyarakat Buol Bersatu itu berla […]
  • Unjuk Rasa Tuntut Bupati Buol Mundur Berakhir Bentrok
    Palu - Unjuk rasa lebih dari 1.000 orang yang menuntut Bupati Buol Amram Batalipu mundur dari jabatannya berakhir bentrok, Senin (10/5). Empat pengunjuk rasa ditangkap polisi, sejumlah warga dan petugas luka terkena lemparan batu. Unjuk rasa gabungan warga, mahasiswa, dan pegawai negeri sipil (PNS) yang tergabung dalam Forum Masyarakat Buol Bersatu itu berla […]
  • Polda Sulteng Diminta Tarik Brimob dari Buol
    Palu - Yayasan Dopalak Indonesia (YDI) meminta Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen H Andi Hasanuddin menarik aparat Brimob dari Kabupaten Buol. "Kami meminta satu SSK (satuan setingkat kompi) Brimob yang ditempatkan di Buol dalam rangka pengamanan unjuk rasa ditarik. Kehadiran Brimob bukan solusi masalah di Buol," kata Direktur YDI Idham Dahlan di Palu […]
  • 213.328 Warga Kota Palu Pilih Wali Kota
    Palu -Sebanyak 213.328 warga Kota Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah (Sulteng), diharapkan menggunakan hak politiknya dalam pemilihan umum kepala daerah (pilkada) setempat yang dijadwalkan pada 4 Agustus 2010. Pjs Ketua KPU Kota Palu Mukhlis Hakim Lubis mengemukakan di Palu, Jumat (19/2), jumlah pemilih itu masih data sementara yang diterima dari Pemkot Palu dan […]

RSS Titik Embun

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: